Maaf ya jika cerita ini saya hanya menkopas dari internet, tapi saya tidak lupa mencantumkan sumber referensinya, saya mendapatkan 3 referensi yang menurutku asli:
http://warmada.staff.ugm.ac.id/Life/tangan.html
https://www.facebook.com/notes/i-love-hijab/cerita-motivasi-papa-kembalikan-tangan-ita-by-indohijabers/432832856774676
http://www.reptilx.com/forum/archive/index.php/t-10696.html
Dari ketiga web tersebut, saya memilih website yang ini, di forum ini point-point cukup jelas, dan forum ini mengacu pada blog: (http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=15404.0)
Ini kisah nyata yg lagi heboh di Malaysia sekarang (di blog tertera 2010), jangan
lupa siapkan tissue karena bener-bener menyedihkan......Ingatlah....semarah
apapun, janganlah bertindak keterlaluan..............
Ditujukan kepada semua orang tua,
Sebuah kisah untuk dijadikan pengalaman dan pengajaran......Sebagai ibu kita patut juga menghalangi perbuatan suami kita memukul. Khususnya pada anak-anak yang masih kecil dan tak tahu apa-apa. Mengajar dgn cara memukul bukanlah cara terbaik, mungkin sudah sampai waktunya untuk badan-badan kebajikan educate org Malaysia untuk praktekkan konsep 'time out" jika anak-anak buat salah.
Begini kisah nyatanya:
Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja. Dia bermain diluar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.
Ditujukan kepada semua orang tua,
Sebuah kisah untuk dijadikan pengalaman dan pengajaran......Sebagai ibu kita patut juga menghalangi perbuatan suami kita memukul. Khususnya pada anak-anak yang masih kecil dan tak tahu apa-apa. Mengajar dgn cara memukul bukanlah cara terbaik, mungkin sudah sampai waktunya untuk badan-badan kebajikan educate org Malaysia untuk praktekkan konsep 'time out" jika anak-anak buat salah.
Begini kisah nyatanya:
Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja. Dia bermain diluar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu
hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil
ayahnya diparkirkan tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak
kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna
gelap, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan
sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu bapak dan ibunya mengendarai motor ke
tempat kerja karena ada perayaan Thaipusam sehingga jalanan macet. Setelah
penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya
gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain
sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si
pembantu rumah.
Pulang petang itu, terkejutlah ayah ibunya melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini?" Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan 'Tak tahu... !" "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Ita yg membuat itu papa.... cantik kan!" katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa.
Si ayah yang
hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di
depannya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si anak yang
tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas
memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma
mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa?. Si bapak cukup rakus
memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.
Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Ita demam..." jawab pembantunya ringkas."Kasih minum panadol ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya.
Saat
dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar
pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa
suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00
siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa
ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke hospital karena keadaannya serius.
Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu.
"Tidak ada pilihan.." katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah.
"Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah" kata doktor.
Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran-heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.
"Papa.. Mama... Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita tak mau jahat. Ita sayang papa.. sayang mama." katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.
"Ita juga sayang Kak Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris.
"Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil.. Ita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret-coret mobil lagi," katanya berulang-ulang.
Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.
*"jika tidak dapat apa yang kita suka...belajarlah utk menyukai apa yang
kita dapat.." *SoMeTiMeS GoOd PeOpLe Do EvIl ThiNgs....
http://giealfonsin.blogspot.com/2010/01/kisah-sedih-seorang-anak-kecil.html